Beranda Kumpulan Kata Kata Kata Bijak Karya Sujiwo Tejo untuk Motivasi dalam Kehidupan

Kata Kata Bijak Karya Sujiwo Tejo untuk Motivasi dalam Kehidupan

108
0
Kata Kata Bijak Karya Sujiwo Tejo untuk Motivasi dalam Kehidupan
Sujiwo Tejo

Idehit.com – Usia memang sudah tidak muda lagi, namun penampilan nyentrik tetap ditunjukan oleh Sujiwo Tejo, seorang seniman yang masih tampil keren hingga saat ini.

Banyak sekali karya yang telah dilahirkan oleh pria yang kondang disebut sebagai Presiden Janjukers itu.

Salah satu yang akan admin beberkan tentang karyanya kali ini adalah tentang kata kata bijak mutiara yang sangat cocok sebagai motivasi diri dalam kehidupan sehari-hari.

Sedikit tentang beliau dimana Sujiwo Tejo juga pernah bekerja sebagai salah satu wartawan di Kompas.com. Selainnya ia juga aktif sebagai penulis, pelukis, pemusik dan dalang.

Memang sangat banyak sekali jika harus dibahas satu persatu, karena tema kita kali ini adalah tentang kata kata bijak, berikut kata kata (quotes) karya Sujiwo Tejo yang juga merupakan pria kelahiran Jember 1962 tersebut.

Kumpulan Kata Bijak Mutiara Karya Sujiwo Tejo

Berikut ini adalah beberapa kata kata bijak Sujiwo tejo yang telah dikutip dari beberapa sumber:

“Puncak kangen paling dahsyat ketika dua orang tak saling telepon, SMS, BBM, tapi keduanya dan saling mendoakan.”

“Tak ada lagi airmata yang dapat kau timba, Kekasih, karena sungguh rinduku padamu kini telah menyumur tanpa dasar.”

“Rindu dikalikan jarak sama dengan aku.”

“Jangan terkecoh, Kekasih, gerimis sesungguhnya membakar bila apinya tak disembunyikan oleh rasa kangenku.”

“Wanita itu suka ice cream dan coklat, namun lebih suka kepastian.”

“Yang paling sanggup menerjemahkan cinta hanyalah penantian, Kekasih.”

“Jangan pergi agar dicari, jangan sengaja lari agar dikejar. Berjuang tak sebercanda itu.”

“Pada puncak kangenku, Kekasih, airmataku mengembun di bintang-bintang.”

“Menikah itu nasib mencintai itu takdir. Kau bisa berencana menikahi siapa, tapi tak dapat kau rencanakan cintamu untuk siapa.”

“Met malam, Kekasih, tunda tidurmu sampai lewat tukang putu dengan suara mirip rinduku.”

“Sunyi adalah setiap jalan yang kau susuri sendiri bersama kenangan.”

“Siang tak menunggu malam. Siang hanya berubah menjadi malam. Sedang aku menunggumu, Kekasih.”

“Kenapa tisue bermanfaat karena cinta tak pernah kemarau.”

“Membawa rinduku padamu, Kekasih, suatu saat angin ‘kan sampai, sangat sepoi mengusap tangismu.”

“Naskah sutradara kita tahu di depan, naskah Tuhan kita tahu di belakang.”

“Hidup luntang lantung bagai gelandangan di bawah pohon tapi hatinya penuh cinta.”

“Cinta adalah ketika kuat kau rasakan kehadiran Tuhan dalam diri.”

“Cinta ternyata penjara dengan jeruji kasih sayang, maka kau kerap menangis tanpa merasa di bui, kekasih.”

“Cinta itu ga pake itung-itungan. Kalo udah mulai mikir pengorbanan itu namanya kalkulasi.”

“Bagaimana kebiasaan akan kita ubah kalau kebiasaan itu sendiri sering tak kita sadari.”

“Tangga menuju langit adalah kepalamu, maka letakkan kakimu diatas kepalamu. Untuk mencapai Tuhan injak-injaklah pikiran dan kesombongan rasionalmu.”

“Kenapa orang Indonesia selalu mempromosikan batik, reog? Kok korupsi nggak? Padahal korupsilah budaya kita yang paling mahal.”

“Cintanya kepada sesama manusia cuma dalam rangka cintanya kepada Tuhan yang menciptakan manusia.”

“Jika kegagalan adalah sukses yang tertunda, berarti bisa kita harapkan kebohongan adalah jujur yang tertunda. Mengapa kalian pesimistis?”

“Yang membekas dari lilin bukan lelehnya, kekasih, tapi wajahmu sebelum gelap.”

“Korupsi lebih atau setidaknya sama saja dengan membakar kitab suci, yaitu menghina esensi kitab suci. Tak ada ajaran maupun agama yang tak mengharamkan korupsi.”

“Hidup di alam fana adalah hidup di alam sandiwara.”

“Manusia hidup di zamannya. Sampeyan boleh saja hidup lama di luar negeri, tapi jangan sampai terlalu lama hidup di luar zaman.”

“Tuhan menciptakan tangis perempuan agar laki-laki melupakan tangisnya sendiri.”

“Sudah ribuan perang kujalani nak, tapi belum satupun perangku menjadi agung karena membela cinta.”

“Kenapa aku suka senja? Karena negeri ini kebanyakan pagi, kekurangan senja, kebanyakan gairah, kurang perenungan.”

“Banyak yang yakin bahwa mawar cuma tumbuh di tanah. Padahal mawar juga bisa tumbuh di hati.”

“Bagaimana kalau uang jajan lebih besar ketimbang uang makan?”

“Intinya, bagimana sembahyang itu bisa mendorong seluruh hatimu untuk menolong orang lain. Itulah inti pergi ke masjid, gereja, wihara, kuil, dan sebagainya.”

“Andai mereka, kaum jomblo itu, ber-Tuhan, masih lumayan. Mereka akan bilang bahwa jodoh itu di tangan Tuhan. Lha, yang atheis jodohnya di tangan siapa?”

“Harusnya kesabaran itu seperti keinginan, tak ada batasnya. Yang bertapal batas cuma kebutuhan.”

“Hidup itu seperti pergelaran wayang, dimana kamu menjadi dalang atas naskah semesta yang dituliskan oleh Tuhan mu.”
“Engkau kopi puncak malamku, kekasih, pahit dan kelam tanpa kusedu.”

“Apakah selama ini kita masuk ke dalam agama atau agama yang kita masukkan ke dalam diri kita?”

“Proses sama pentingnya dibanding hasil. Hasilnya nihil tak apa. Yang penting sebuah proses telah dicanangkan dan dilaksanakan.”

“Di negeri yang baik, airmata tak pernah dihapus oleh tisu, tapi oleh tangan kekasih.”

“Tahukah kamu orang yang paling tak berperasaan? Dia yang jauh dari kekasih di saat hujan, tapi tak menghasilkan puisi.”

“Jika setiap warga negara menuntut haknya, negara tak bakalan kacau. Kan ada Goverment yang bakal mengelola penyaluran hak-hak tersebut sehingga tidak saling bertabrakan satu sama lain. Dan dari situlah goverment betul-betul ada kerjaan, bukan pengannggur terselubung yang makan gaji buta dari uang rakyat.”

“Bau sampah kulit udang bagiku lebih enak ketimbang bau orang yang sok bermoral padahal bajingan.”

“Maka siluetkan tubuhmu berlatar senja, karena tak sanggup kulihat airmatamu, kekasih.”

“Kadang aku terpikir salah satu syarat menjadi presiden Indonesia adalah tidak punya riwayat minder dalam hidupnya.”

“Pancasila tuh dasarnya sila 1-3, tujuannya sila 5, cara untuk mencapainya sila 4.”

“Karena hanya kebekuan yang susah memaafkan.”

“Toh jagat di luar dan jagat di dalam sama saja. Siapa yang mengenal Tuhan akan mengenal dirinya. Siapa yang mengenal dirinya akan mengenal Tuhan.”

“Mencintai khayalan mungkin memang lebih eksotis ketimbang mencintai sosok yang jelas-jelas konkret di depan mata dan terikat di bumi.”

“Tabahlah seperti perempuan, saban hari memandikan anak, tapi tak pernah menuntut adanya mesin cuci anak.”

“Sebaik-baik wajah adalah senyum yang gampang dikenang, Kekasih.”

“Luka ini bukan tentang darah, kekasih, tetapi segenap luka luarmu kini telah menjadi luka dalam yang sunyi.”

“Tidak tersenyum lebih kejam daripada pembunuhan.”

“Orang hidup, termasuk saya, toh lebih sering memperhatikan wajah dan sifat-sifat orang lain ketimbang detail-detail selebihnya.”

“Menjadi suami atau istri yang gagal kerap dinilai tak menjaga kehormatan keluarga besar.”

“Jangan tanya besarnya seseorang dari anaknya sendiri. Di mata keluarganya seorang ayah pasti biasa-biasa saja. Mungkin malah kerdil.”

“Jangka waktu antara sanjungan dan umpatan demikian tipisnya. Manusia bisa pagi memuja, lalu sorenya mendamprat dengan berbagai hujatan.”

“Bahasa Indonesia itu sederhana kok. Tapi bukanlah kesederhanaan adalah wujud pencapaian tertinggi manusia?”

“Kesenian yang baik biasanya merupakan biografi senimannya, biografi yang disamar-samarkan di sana sini.”

“Terdengar suara-suara tak indah dalam perjuangan menuntut hak juga tidak mengapa. kalau goverment hanya pengin mendengar suara-suara indah, berarti mereka tidak sedang membutuhkan warga negara. suruh saja para tokoh yang prejang-prejeng pakai jas dan abaju safari itu mengurus cucak rowo atau perkutut.”

“Yang aku bayar pada tukan pecel hanyalah biaya produksi, waktu dan tenaganya. Rasaku ketika makan pecel dan berbagai sensasinya tak terbayar. Itulah utang rasa.”

“Bahkan dalam banyak kepercayaan dan agama, hal yang musikal dianggap lebih awal dan lebih akhir ketimbang teks kata-kata maupun rupa.”

“Minta maaf, dengan segenap konsekuensinya, harusnya mudah dilakukan oleh siapapun yang belum beku.”

“Untuk menjaga perdamaian dunia, daripada repot-repot diskusi sana-sini tentang potensi konflik antar agama, antar ideologi, dan lain-lain, mending fokus ke soal rasio ketersediaan pangan dan jumlah warga dunia.”

“Urakan berbeda dari kurang ajar. Urakan melanggar aturan termasuk aturan berfikir demi mengikuti hati nurani. Kurang ajar melanggar aturan hanya demi melanggar.”

“Ateis lebih tepatnya adalah orang-orang yang mengaku beragama dan bertuhan, tapi tindakannya korup. mereka tidak benar-benar bertuhan, mereka mengaku menuhankan Allah atau dengan apapun memberi nama, tetapi sejatinya mereka Tuhankan duit. Duit itu berbentuk. Padahal, konon, tuhan tidak berbentuk.”

“Benar dan salah tentu ada. Tegakkanlah segitiga. Pada alas ada dua sudut, sudut benar dan sudut salah.”

“Negara yang kau tetapkan, kampung yang kau tinggali, rumah yang kau huni, adalah kesenian… Udara yang kau hirup, air yang engkau berendam, api unggun kepunganmu untuk kehangatan bergaul, adalah kesenian.”

“Tuhan menciptakan pundak lelaki untuk menyangga tangis perempuan.”

“Sepi itu pesta jutaan kata, petasan dan kembang api dari cinta yang tak bersambut, Kekasih.”

“Yang aku bayar pada dokter hanya keahliannya. Perasaan ku ketika ia sembuhkan tak bisa ku bayar. Itulah utang rasa.”

“Presiden, gubernur, bupati, dan lain-lain bukanlah pemimpin. Mereka lebih tepatnya pegawai kita, maksimal direktur. Dan kitalah komisarisnya.”

“Lagu kebangsaan adalah urusan emosional.”

“Ketika ku beli cd musik Chrisye. Rasa musik yang mereka jajakan di batinku tak terbayar, itulah utang rasa.”

Kutipan diatas adalah beberapa karya Sujiwo Tejo, semoga bermanfaat sebagai motivasi diri kita semua.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

one + fourteen =