Beranda Sejarah Sejarah Kerajaan Kutai Kartanegara

Sejarah Kerajaan Kutai Kartanegara

117
Sejarah Kerajaan Kutai Kartanegara
Sejarah Kerajaan Kutai Kartanegara

Idehit.comSejarah Kerajaan Kutai Kartanegara, Jika dirunut dari sejarah masa lalu, Kutai adalah kerajaan tertua di Indonesia. Hal ini dibuktikan dengan ditemukannya 7 buah tulisan bertuliskan yupa di atas (monumen batu) yang ditulis dalam bahasa Sanskerta dengan menggunakan huruf Pallawa. Berdasarkan paleografinya, teks tersebut berasal dari abad ke-5 Masehi.

Berdasarkan prasasti tersebut dapat ditemukan keberadaan kerajaan di bawah kepemimpinan Raja Mulawarman, putra Raja Aswawarman, cucu Maharaja Kudungga. Kerajaan diperintah oleh Mulawarman ini bernama Martadipura Kutai, yang terletak di seberang kota Muara Kaman.

Pada awal abad ke-13, berdiri kerajaan baru di Tepian Stone atau Kutai Lama bernama Kerajaan Kukar dengan raja pertama, Aji Batara Agung Dewa Sakti (1300-1325).

Dengan adanya dua kerajaan di wilayah Sungai Mahakam ini tentu menimbulkan perselisihan di antara keduanya. Pada abad ke-16 terjadi perang antara kedua kerajaan di Kutai ini. Kerajaan Kukar di bawah raja, Pangeran Aji Sinum Bannerman akhirnya menaklukkan Mendapa Kutai Martadipura. Raja kemudian memanggil kerajaan Ing ke dalam Kukar Martadipura.

Pada abad ke-17 Islam telah diterima dengan baik oleh Kerajaan Kukar. Selanjutnya banyak nama Islam yang akhirnya digunakan atas nama raja dan keluarga kerajaan Kukar. Gelar digantikan oleh raja dengan gelar Sultan. Sultan yang pertama kali menggunakan nama Islam adalah Sultan Aji Muhammad Idris (1735-1778).

Pada 1732, ibukota Kerajaan Kukar pindah dari Kutai Lama Pemarangan.

Sultan Aji Muhammad Idris, yang merupakan anak perempuan Sultan Wajo pergi ke tanah Lamaddukelleng Wajo, Sulawesi Selatan untuk mengambil bagian dalam pertempuran melawan Kompeni dengan orang-orang Bugis. Pemerintah Kutai Kartanegara untuk sementara dipegang oleh Dewan Wali Amanat.

Pada tahun 1739, Sultan A.M. Idris terbunuh di medan perang. Setelah Sultan Idris wafat, terjadilah pergulatan untuk merebut tahta oleh Aji Kado. Pangeran mahkota kerajaan Aji yang saat itu Imbut sedikit kemudian bergegas ke Wajo. Karunia Aji kemudian melantik namanya sebagai Sultan Kukar dengan menggunakan gelar Sultan Aji Muhammad Aliyeddin.

Sebagai orang dewasa, Aji Imbut sebagai putra mahkota Shah Kekaisaran Kutai kembali ke tanah. Oleh orang Bugis dan abdi dalem yang setia kepada almarhum Sultan Idris, Aji Imbut Sultan dimahkotai dengan gelar Kukar Sultan Aji Muhammad Muslihuddin. Muslihuddin Sultan penobatan diadakan di Mangkujenang (Samarinda Seberang). Sejak itu mulai pertarungan melawan Aji Kado.

Perlawanan terjadi dengan strategi embargo ketat oleh Mangkujenang terhadap Pemarangan. Armada bajak laut Sulu terlibat dalam perlawanan ini dengan menyerang dan membajak terhadap Pemarangan. Pada 1778, Aji VOC Hadiah untuk bantuan tetapi tidak dapat dipenuhi.

Pada tahun 1780, Aji Imbut berhasil merebut kembali ibukota dan Pemarangan secara resmi dinobatkan sebagai sultan dengan gelar Sultan Aji Muhammad di istana Muslihuddin Kukar Kesultanan. Hadiah Aji dieksekusi dan dimakamkan di Pulau Jembayan.

Imbut Aji Aji Mohammed Sultan Muslihuddin memindahkan ibu kota Kutai Kartanegara ke Tepian Pandan pada 28 September 1782. Langkah itu dilakukan untuk menghilangkan pengaruh ingatan pahit dari pemerintahan dan Kado Aji Pemarangan yang dianggap telah kehilangan tuahnya. Nama Pandan Tepian kemudian berubah menjadi sarana wisata Rumah Tangga Raja, seiring berjalannya waktu semakin populer wisatawan bernama Tenggarong dan bertahan hingga sekarang.

Pada tahun 1838, Kerajaan Kukar dipimpin oleh Sultan Aji Muhammad Aji Imbut Salehuddin setelah kematiannya tahun itu.

Pada tahun 1844, kapal dagang milik 2 James Erskine Murray dari perairan Inggris memasuki Tenggarong. Murray datang ke Kutai dan meminta untuk berdagang tanah untuk mendirikan pos perdagangan dan hak eksklusif untuk menjalankan kapal di perairan Mahakam. Tapi Sultan A.M. Salehuddin mengizinkan Murray untuk berdagang hanya di wilayah Samarinda saja. Murray tidak puas dengan tawaran Sultan ini. Setelah beberapa hari di perairan Tenggarong, Murray menembakkan meriam ke arah istana dan dikembalikan oleh pasukan kerajaan Kutai. Pertempuran tidak bisa dihindari. Murray memimpin armada dikalahkan dan melarikan diri menuju laut lepas. Lima orang terluka dan tiga orang tewas dari armada Murray, dan Murray sendiri, termasuk di antara mereka yang tewas.
Acara pertolongan Awang Long Senopati bertempur di Monumen Pancasila, Tenggarong

Peristiwa Tenggarong dalam pertempuran ini sampai ke pihak Inggris. Inggris sebenarnya akan melakukan serangan balik terhadap Kutai, tetapi diambil oleh Belanda bahwa Kutai adalah salah satu bagian dari Hindia Belanda dan Belanda akan menyelesaikan masalah ini dengan caranya sendiri. Kemudian Belanda mengirim armada di bawah komando t’Hooft dengan persenjataan lengkap. Setibanya di Tenggarong, armada t’Hooft menyerang istana Sultan Kutai. Sultan A.M. Salehuddin dievakuasi ke kota Bangun. Panglima perang kerajaan Kutai, gelar Awang Long dari Pangeran Senopati dengan pasukannya bertempur dengan gagah berani melawan armada untuk menjaga kehormatan Kerajaan Hukaroft. Awang Long meninggal dalam pertempuran yang kurang seimbang dan Kukar Kekaisaran dikalahkan dan menyerah di Belanda.

Pada 11 Oktober 1844, Sultan A.M. Salehuddin harus menandatangani perjanjian dengan Belanda, yang mengklaim bahwa Sultan mengakui pemerintah Hindia Belanda dan mematuhi pemerintah Hindia Belanda di Kalimantan, diwakili oleh seorang penduduk yang berdomisili di Banjarmasin.

Tahun 1846, H. von Dewall menjadi administrator sipil Belanda pertama di pantai timur Kalimantan.

Pada tahun 1850, Sultan A.M. Salomo memegang tampuk kepemimpinan Kutai Kartanegara Martadipura Ing.

Pada 1853, pemerintah Hindia Belanda menempatkan J. Zwager sebagai Asisten Residen di Samarinda. Pada saat itu kekuatan politik dan ekonomi masih berada di tangan Sultan PM Solomon (1850-1899).

Pada tahun 1863, kerajaan mendukung perjanjian Kukar dengan Belanda. Dalam perjanjian itu disepakati bahwa Kerajaan Kukar menjadi bagian dari Pemerintah Hindia Belanda.

Tahun 1888, tambang batu bara pertama dibuka di Kutai Stone Panggal oleh insinyur pertambangan dari Belanda, JH Menten. Menten juga meletakkan dasar untuk eksploitasi minyak pertama di wilayah Kutai. Kemakmuran wilayah Kutai tampaknya lebih nyata bahkan membuat Kesultanan Kukar menjadi sangat populer pada masa itu. Pengeksloitasian royalti atas sumber daya alam di Kutai diberikan kepada Sultan Sulaiman.

Pada tahun 1899, Sultan Suleiman sang putra meninggal dan digantikan oleh mahkotanya Aji Mohammed, Sultan Aji Muhammad Alimuddin.

Pada tahun 1907, misi Katolik pertama didirikan di Laham. Setahun kemudian, wilayah Mahakam atas diserahkan ke Belanda dengan kompensasi sebesar 12.990 Gulden per tahun kepada Sultan Kutai Kartanegara.

Sultan Alimuddin hanya memerintah selama 11 tahun, ia wafat pada tahun 1910. Karena pada saat itu pangeran mahkota Aji masih belum dewasa Terkejut, pemerintahan Kesultanan Kukar kemudian dipegang oleh Dewan Perwalian, dipimpin oleh Pangeran Aji Mangkunegoro.

Pada 14 November 1920, bernama Aji Shocked Kukar Sultan dengan gelar Sultan Aji Muhammad Parikshit.

Sejak awal abad ke-20, ekonomi Kutai tumbuh sangat pesat sebagai hasil dari penggabungan Kalimantan-Sumatra Trade Co.. Pada tahun-tahun itu, ibukota Kutai tumbuh dengan mantap melalui surplus yang dihasilkan setiap tahun. Sampai tahun 1924, Kutai memiliki dana sebesar 3.280.000 Gulden – jumlah yang fantastis untuk periode itu.

Pada tahun 1936, Sultan A.M. Parikshit membangun istana baru yang megah dan terbuat dari bahan beton padat. Dalam satu tahun, istana selesai dibangun.

Ketika Jepang menduduki wilayah Kutai pada tahun 1942, Sultan Kutai harus mematuhi Tenno Heika, Kaisar Jepang. Jepang memberi Sultan gelar kehormatan dengan nama kerajaan Koo Kooti.

Kemerdekaan Indonesia pada tahun 1945. Dua tahun kemudian, status Kesultanan Kukar masuk ke Federasi Daerah Otonomi Kalimantan Timur bersama-sama daerah lain seperti Kesultanan Bulungan, Sambaliung, dan Pasir Gunung Tabur dengan membentuk Dewan Kesultanan. Kemudian pada 27 Desember 1949 di Amerika Serikat Indonesia.

Daerah Otonomi Kutai diubah menjadi Daerah Khusus Kutai, yang merupakan daerah otonom / daerah khusus daerah berdasarkan UU Darurat No.3 Th.1953.

Pada tahun 1959, berdasarkan Undang-Undang Nomor 27 Tahun 1959 tentang “Pembentukan Wilayah Tingkat II di Kalimantan”, wilayah Daerah Khusus Kutai dibagi menjadi 3 Wilayah Tingkat II, yaitu:
1. Wilayah Tingkat Kedua dengan ibukota Tenggarong Kutai
2. Ibukota kota Balikpapan Balikpapan
3. Kotapraja dengan ibu kota Samarinda

Pada tanggal 20 Januari 1960, bertempat di Governorate di Samarinda, APT Pranoto yang menjabat sebagai gubernur Kalimantan Timur, dengan nama Menteri Dalam Negeri Republik Indonesia meresmikan ke-3 dan mengambil sumpah ke tiga kepala daerah otonom daerah, yaitu:

  1. A.R. Bupati Padmo sebagai Kepala Daerah Tingkat II Kutai
  2. Kapten. Soedjono sebagai Walikota Samarinda
  3. A.R. Sayid Mohammad sebagai Walikota Balikpapan

Sehari kemudian, pada 21 Januari 1960 diadakan di Aula Istana Sultan Kutai, Sidang Khusus Parlemen Tenggarong Daerah Khusus Kutai. Inti dari acara ini adalah penyerahan pemerintahan dari Kepala Daerah Istimewa Kutai, Sultan Aji Muhammad Raden Aji Parikshit kepada Padmo sebagai Kepala Bupati Provinsi II Kutai, Kapten Soedjono (Walikota Samarinda) dan AR Sayid Mohammad (Walikota) dari Balikpapan). Pemerintahan Kutai Kartanegara di bawah Sultan Aji Muhammad Parikshit berakhir, dan ia hidup sebagai rakyat jelata.

Pada tahun 1999, Bupati Kukar Drs. H. Syaukani HR, MM berniat untuk menghidupkan kembali Kesultanan Martadipura Kukar ing. Kembalinya Kutai bukan dengan niat untuk menghidupkan kembali feodalisme di wilayah tersebut, tetapi sebagai upaya untuk melestarikan warisan budaya dan sejarah sebagai kerajaan Kutai di tertua di Indonesia. Selain itu, Kesultanan dihidupkannya tradisi Kukar adalah mendukung sektor pariwisata Kalimantan Timur dalam upaya menarik wisatawan dan wisatawan asing.

Pada 7 November 2000, Bupati Kukar bersama Crown Kutai H. Pangeran Aji Praboe Adiningrat Soerja Anoem menghadapi Presiden Abdurrahman Wahid di Bina Graha Jakarta untuk menyampaikan tujuan di atas. Presiden Wahid menyetujui dan menyetujui kembalinya Kutai Kartanegara ke keturunan pangeran mahkota Sultan Kutai H. Pangeran Aji Praboe.

Pada 22 September 2001, Pangeran Mahkota Kutai Kartanegara, H. Pangeran Aji Praboe Adiningrat Soerya Anoem memahkotai Kaisar dengan gelar Kukar Sultan H. Aji Muhammad Salehuddin II. Penobatan H.A.P. Praboe sebagai Sultan Kukar yang baru diselenggarakan pada 22 September 2001.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

18 + 1 =