Beranda Sejarah Sejarah Raden Wijaya Sebagai Pendiri Kerajaan Majapahit

Sejarah Raden Wijaya Sebagai Pendiri Kerajaan Majapahit

398
Sejarah Raden Wijaya Sebagai Pendiri Kerajaan Majapahit
Raden Wijaya Raja Pertama Kerajaan Majapahit

Idehit.com – Setelah sempat mengulas tentang sejarah Kerajaan Majaphit, kini kembali dengan sosok raja pendiri salah satu kerajaan terbesar di Nusantara tersebut yakni Raden Wijaya atau Raden Vijaya juga dikenal sebagai Nararya Sangramawijaya, nama pemerintahan Kertarajasa Jayawardhana.

Raden Wijaya memerintah tahun 1293–1309 adalah seorang Raja Jawa, pendiri dan raja pertama kerajaan Majapahit.

Sejarah berdirinya Majapahit ditulis dalam beberapa catatan, termasuk Pararaton dan Negarakertagama. Kekuasaannya ditandai oleh kemenangan melawan tentara dan angkatan laut dinasti Yuan Kublai Khan, sebuah divisi dari Kekaisaran Mongol.

Silsilah Leluhur Raden Wijaya

Ada beberapa versi tentang penulisan sejarah leluhur Raden Wijaya.

Menurut Pararaton, Raden Wijaya adalah putra Mahisa Campaka, pangeran Singhasari.

Menurut Pustaka Rajyarajya i Bhumi Nusantara, Raden Wijaya adalah putra Rakeyan Jayadarma (putra Raja Sunda-Galuh Prabu Guru Darmasiksa) dan Dyah Lembu Tal (putri Mahisa Campaka dari Singhasari).

Rakeyan Jayadarma diracun dan setelah kematian suaminya, Dyah Lembu Tal kembali dari Kerajaan Sunda-Galuh ke Singhasari bersama Raden Wijaya. Kisah ini mirip dengan Babad Tanah Jawi yang menyebutkan pendiri Majapahit adalah Jaka Sesuruh, putra dari raja Pajajaran yang terletak di Kerajaan Sunda.

Jaka Sesuruh berlari ke timur karena persaingan dengan saudara tirinya Siyung Wanara.

Atau dengan Nagarakretagama, Dyah Lembu Tal, juga dikenal sebagai Dyah Singhamurti, adalah seorang lelaki dan cicit dari Ken Arok, raja Singhasari (1222-1227) dan Ken Dedes, oleh putra mereka Mahisa Wonga Teleng, dan putranya Mahisa Campaka (Nara Singhamurti).

Karena Nagarakretagama ditulis pada 1365, 56 tahun sejak kematian Raden Wijaya, pendapat umum mendukungnya.

Sebelum berdirinya Majapahit

Pada tahun 1289, Kublai Khan mengirim permintaan untuk upeti ke Kerajaan Singasari, Singhasari, meskipun permintaan itu ditolak oleh Kertanagara dan utusan itu dipermalukan.

Tidak lama kemudian, terjadi pemberontakan terhadap Singhasari di negara Jayakatwang. Kertanagara terbunuh dalam upaya untuk menghentikan pemberontakan pada 1292, dan Raden Wijaya melarikan diri ke Sumenep, Madura, bersama dengan gubernur wilayah itu, Aria Wiraraja.

Di sana, Raden Wijaya membuat rencana untuk mendirikan kerajaan baru. Wijaya berjanji akan membagi Jawa dengan Aria Wiraraja jika Aria Wiraraja dapat membantunya menggulingkan kerajaan Kediri milik Jayakatwang.

Putra Wiraraja, Ranggalawe, menjabat sebagai salah satu senapati (panglima perang) Wijaya, tetapi di kemudian hari ia akan memberontak melawan raja yang baru.

Perwira terkenal lainnya adalah Lembu Sora dan Nambi, keduanya juga memberontak terhadap Wijaya masing-masing setelah berdirinya kerajaan Majapahit.

Awal berdirinya kerajaan Majapahit

Pada bulan November 1292, pasukan Mongol mendarat di Tuban, Jawa Timur, dengan tujuan balas dendam atas penghinaan Kertanagara terhadap utusan Mongol.

Namun, Kertanegara sudah mati. Raden Wijaya membuat aliansi dengan bangsa Mongol dengan tujuan menyerang Singhasari, yang pada saat ini telah jatuh di bawah kekuasaan Jayakatwang.

Jayakatwang dikalahkan dan dihancurkan pada 1293, di mana Raden Wijaya menyerang pasukan Mongol. Bangsa Mongol, yang sudah dilemahkan oleh penyakit tropis, iklim, dan penjangkauan kekaisaran, terpaksa meninggalkan tanah Jawa kala itu. Raden Vijaya kemudian mendirikan kerajaan Majapahit, mengambil gelar Kritarajasa Jayavardhana.

Istri Raden Wijaya

Menurut George Coedes, sebelum runtuhnya kerajaan Singhasari, Raden Wijaya menikah dengan Gayatri Rajapatni, putri Kertanegara.

Namun, selama pembentukan kerajaan baru Majapahit, ia menikahi empat putri Kertanagara, dan yang tertua, Ratu Paramesvari Tribhuvana, memberinya seorang putrayakni Kala Gemet, dan dimahkotai sebagai Pangeran Kediri pada tahun 1295.

Raden Wijaya mengambil sisa putri Kertanegara dan dinikahi yakni, Prajnaparamitha, Narendra Duhita, dan Gayatri Rajapatni yang termuda.

Alasan praktik poligami saudara kandung Raden Wijaya adalah untuk memastikan klaim legitimasinya, juga untuk mencegah kontes warisan Singhasari Kertanegara.

Raden Wijaya juga membawa Indreswari (juga dikenal sebagai Dara Petak), yang konon adalah putri Kerajaan Malayu Dharmasraya yang dibawa oleh Kebo Anabrang ke istana Majapahit dari Sumatra melalui ekspedisi Pamalayu milik Kertanegara.

Pararaton menyebutkan bahwa Kala Gemet dilahirkan oleh Dara Petak, putri Dharmasraya, sementara Nagarakretagama menyebutkan bahwa ia dilahirkan oleh Indreswari, yang mengarah ke asumsi bahwa Indreswari adalah nama lain dari Dara Petak.

Raja Kertarajasa Jayawardhana memiliki lima istri, namun dalam penggambarannya yang anumerta sebagai dewa Harihara di kuil Simping, citranya diapit oleh dua tokoh perempuan, menyarankan bahwa ia memiliki dua pramesvari (permaisuri), satu adalah Gayatri, yang lain adalah Tribhuwana atau mungkin Dara Petak.
Aturan Majapahit

Raden Wijaya dikenal sebagai penguasa yang kuat dan cakap. Aria Wiraraja yang sangat berperang serta selama periode pembentukan kerajaan, diberi Madura, yang diberi status khusus.

Dia juga diberi wilayah otonom di sekitar Lumajang dan Semenanjung Blambangan, dan putranya, Nambi, diangkat sebagai Perdana Menteri.

Pewaris

Dari Indreswari, Raja Vijaya memiliki seorang putra Jayanegara, sedangkan dari Gayatri Rajapatni ia memiliki dua anak perempuan, Tribhuwana Wijayatunggadewi dan Rajadewi. Istri-istri lain tampaknya tidak memiliki anak, termasuk istri pertamanya Tribhuwana. Setelah kematiannya, Raja Kertarajasa Jayavardhana digantikan oleh putranya, Jayanegara.

1 KOMENTAR

  1. Sangat bermanfaat, memang sangat diwajibkan bagi anak bangsa untuk mengerti akan sejrah bangsanya.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

eight + 19 =